Content Marketing Strategy
Saya mau mulai dengan analogi. Kamu datang ke acara arisan atau reuni SMA, ada satu orang yang sepanjang acara hanya membicarakan dirinya sendiri, seberapa sukses dia, seberapa bagus mobilnya, tanpa peduli membantu orang lain atau mengobrol dengan yang lain.
Menjengkelkan, kan? Sama halnya dengan pelanggan yang muak melihat brand yang media sosialnya setiap hari hanya memposting “DISKON 50%”, “BELI INI”, “PRODUK KAMI PALING MURAH TAPI PREMIUM”.
Content Marketing adalah solusinya.
Apa Itu Content Marketing?
Inti content marketing: Kamu memberikan konten bermanfaat, hiburan, atau edukasi terlebih dahulu, baru kemudian menjual (hard-selling belakangan).
Contohnya, kamu menjual jasa pembersih AC keliling. Daripada setiap hari memposting poster harga promo, lebih baik kamu memposting video TikTok berisi: “Jangan Nyalakan Suhu AC Langsung 16 Derajat, Ini 3 Alasan Kompresormu Bisa Rusak”.
Bermanfaat, kan? Orang jadi follow dan save video itu. Besoknya ada video lagi: “Ciri-Ciri AC Kamarmu Penuh Kuman”. Saat orang itu menonton sambil mencium bau tidak sedap dari AC kamarnya, akhirnya dia mengklik link bio kamu, lalu membeli paket jasa cleaning AC.
Itulah Content Marketing. Kamu membuat orang merasa butuh tanpa dipaksa membeli melalui hard-selling yang murahan.
Content Pillars (Pilar Konten)
Supaya tidak kehabisan ide, siapkan 3 sampai 5 Content Pillars, yaitu topik-topik utama yang akan kamu bahas berulang dengan format berbeda.
Contoh untuk bisnis Konsultan Keuangan Pribadi (Target: Milenial & Gen-Z):
- Pilar Edukasi: Membahas KPR vs kontrak rumah, cara membaca laporan reksa dana, apa itu dana darurat.
- Pilar Hiburan / Relatable: Meme tanggal tua gaji sisa Rp 200 ribu, sindiran soal kebiasaan jajan kopi susu Rp 35.000 setiap hari.
- Pilar Testimoni / Social Proof: Kisah pelanggan yang baru berani resign setelah menerapkan tabel financial planning dari si konsultan.
- Pilar Jualan (Hard-selling): Pembukaan pendaftaran mentoring keuangan batch 2.
Atur porsinya bergantian di kalender kontenmu (Content Calendar). Jangan Pilar Jualan mendominasi 7 hari berturut-turut.
Repurposing: Kerja Cerdas, Bukan Lembur
Banyak rekan Digital Marketer merasa burnout karena merasa harus membuat 10 ide baru setiap hari untuk berbagai media sosial.
Tidak perlu pusing memikirkan ide konten dari nol terus-menerus. Gunakan strategi Repurposing (Daur Ulang Konten).
Satu ide konten utuh bisa disebut “Hero Content”. Misalnya: artikel blog sepanjang 1.500 kata tentang “Tips SEO Untuk Toko Online Tokopedia”.
Ide ini jangan hanya dipublikasikan lalu dibiarkan begitu saja. Potong-potong menjadi potongan kecil:
- Jadikan 1 Carousel Instagram (berisi 10 slide ringkasan poin dari artikel blog).
- Rekam diri kamu membahas poin utama, edit pendek menjadi durasi 40 detik untuk TikTok & Reels.
- Ambil 1 kutipan menarik dari artikel, jadikan postingan teks untuk cuitan di X (Twitter).
- Kirimkan poin-poinnya ke subscriber lewat Email Newsletter.
Satu ide konten bisa menjadi bahan media sosial selama seminggu penuh.
Storytelling: Bercerita Jauh Lebih Melekat
Orang tidak suka diajari. Orang tidak suka dikuliahi. Tapi orang sangat suka diceritakan sesuatu (Storytelling).
Daripada kamu menulis poin: “Manfaat sepatu ini tahan lama, sol karet tebal, lem pabrikan kuat.” Kemas menjadi cerita: “Kemarin saya memakai sepatu ini naik turun gunung Prau, tersandung akar, basah terkena lumpur, pas turun saya kira solnya akan jebol. Ternyata masih rapat mulus. Menyesal tidak membeli dua kemarin.”
Gaya penulisan yang mampu meracik cerita sampai membuat orang “terhipnotis” seperti ini akan saya bahas tuntas di materi Chapter 5: Copywriting.